Gejala, Penyebab, dan Cara Mengobati Radang Otak

Otak adalah organ tubuh yang sangat penting karena berperan sebagai pusat koordinasi tubuh. pusat saraf ini juga sangat penting untuk mengatur segala gerak tubuh, baik gerak reflek, maupun yang disadari. Yang perlu diwaspadai, banyak sekali faktor pemicu persoalan kesehatan otak. Salah satunya adalah pemicu peradangan pada otak yang banyak disebabkan oleh virus, meskipun tidak menutup kemungkinan bahwa bakteri dan jamur bisa menginfeksi.

Cara mengobati radang otak ini sangat diperlukan sesegera mungkin demi mengembalikan kondisi otak seperti semula. Pengobatan ini diawali dengan metode diagnosis, baru kemudian diketahui secara spesifik apa penyebab peradangan otak dan bagaimana cara mengobatinya.

Gejala Radang Otak

Radang otak atau ensefalitis adalah suatu kondisi yang ditandai dengan berbagai macam gejala. Ensefalitis ini tergolong ke dalam kategori penyakit langka yang berisiko mengancam jiwa. Akan tetapi, risiko ini termasuk jarang terjadi karena tidak sedikit juga penderitanya yang dinyatakan sembuh total. Untuk itu, cara mengobati radang otak harus segera diterapkan.

Beberapa gejala yang menandai adanya peradangan otak adalah nyeri sendi atau otot, mual dan muntah, sedikit pusing, demam, dan bisa sampai kejang-kejang. Pergerakan mata yang tidak terkontrol juga bisa dialami. Otot menjadi lemas dan leher menjadi kaku. Terdapat gangguan dalam berbicara atau dalam pendengaran yang sangat mengganggu penderitanya. Fokus penglihatan juga berkurang dan menyebabkan pandangan kabur. Kelumpuhan pada wajah atau bagian tubuh tertentu juga bisa terjadi dalam kondisi yang parah.

Selain gejala fisik, terdapat perubahan kondisi psikis yaitu sering berhalusinasi dan linglung. Kondisi psikis ini bisa bertambah parah apabila tidak ditangani secara serius. Untuk itu, pahami kondisi ini dan segeralah periksakan ke dokter untuk mendapatkan cara tepat mengobati radang otak secepatnya.

Penyebab Peradangan Otak

Seperti yang dijelaskan di atas bahwa meskipun sebagian besar kasus peradangan otak (ensefalitis) disebabkan oleh virus, tetapi bakteri dan jamur juga dapat menjadi penyebab lainnya. Dalam pengelompokannya, peradangan otak terjadi dalam dua kasus. Kelompok pertama adalah kasus peradangan primer dengan tiga kategori virus penyebabnya.

Kategori pertama adalah virus umum yaituHSV (Herpes Simplex Virus) dan EBV(Epstein-Barr Virus). Ensefalitis yang disebabkan oleh HSV terbilang berbahaya, bahkan bisa sampai menyebabkan kerusakan otak parah dan berakibat fatal. Virus umum lainnya yang dapat menginfeksi adalah sitomegalovirus, HIV, dan virus gondok.

Kategori virus kedua adalah virus di masa kecil. Beberapa virus yang dimaksud adalah virus penyebab penyakit campak, rubella, dan cacar air. Akan tetapi, jarang ditemukan kasus peradangan otak karena umumnya sudah terdapat pencegahan berupa vaksinasi sewaktu kecil.

Kategori virus ketiga yang menyebabkan peradangan otak primer adalah arbovirus. Virus ini dibawa oleh nyamuk, kutu, atau serangga lainnya. Virus ini lebih banyak ditemukan di kawasan Timur Tengah, Afrika, dan Amerika.

Berbeda dengan penyebab dalam radang otakĀ sekunder. Penyebabnya ternyata berasal dari dalam tubuh penderitanya sendiri karena adanya kesalahan sistem imun dalam merespon infeksi tubuh. Sistem imun justru menyerang sel-sel sehatnya. Kondisi ini terjadi pada orang yang terinfeksi HIV, mengalami penyakit autoimun, atau karena ada riwayat infeksi sebelumnya.

Cara Mengobati Radang Otak

Untuk mengobati peradangan pada otak, dokter akan melakukan pemeriksaan diagnosis terlebih dahulu. Dilansir dari hellosehat.com, berbagai upaya untuk mendiagnosis peradangan ini dilakukan melalui serangkaian tes yaitu MRI atau CT Scan, analisis cairan tulang belakang, EEG, tes laboratorium, dan biopsi otak.

Setelah dipastikan menderita peradangan otak dan diketahui penyebab pastinya, dokter akan memberikan pengobatan yang sesuai. Beberapa jenis cara mengobati radang otak adalah dengan pemberian obat-obatan, perawatan yang mendukung (alat bantu pernapasan, obat antiinflamasi, infus, dan obat antikonvulsan), juga dilakukan terapi pendukung atau tindak lanjut (terapi fisik, okupasi, wicara, dan psikoterapi).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *